Terbaru

Turbin Piko Crossflow Dia 100mm (TC100)

Terimakasih untuk Mini Hydro Power Project (MHPP) yang sudah berkenan memberikan desain turbin crossflow untuk dipublikasikan bagi kepentingan umum.

Sebenarnya turbin crosflow ini telah dibuat sejak sekitar setahun yang lalu dan dilakukan lab test hingga akhir Agustus dan juga pemasangan perdana di Sulawesi pada bulan September 2008 oleh team dari MHPP.

Turbin piko yang merupakan penyederhanaan dari desain Crossflow T15 dibuat semata-mata untuk menyebarluaskan teknologi yang semestinya dimiliki oleh seluruh aspek sosial yang ada di masyarakat Indonesia. Turbin ini dikembangkan untuk dapat menekan biaya produksi sehingga masyarakat di desa-desa yang jauh dari jaringan PLN dapat ikut menikmati manfaat energi listrik.

mhpplab

Test Lab MHPP

tedclab

Test Lab TEDC

Garumpar-Site

Garumpar-kidsGarumpar-Sulawesi

Saat ini saya sedang mencoba mengkombinasikan turbin piko ini dengan motor dari bekas mesin cuci yang saat ini tersedia cukup banyak (hasil recycle), target yang dituju adalah turbin yang lebih ringkas, relatif murah dan aman (arus DC)

DC motorLokasi pemasangan sudah tersedia.. turbin pun telah selesai dipabrikasi.. tinggal memasangnya dan membuat jaringan ke masyarakat desa. Hal ini tentu membutuhkan dana lebih banyak lagi, memang sudah ada beberapa instansi yang menawarkan pendanaan tetapi belum terealisasi hingga saat ini.

Semoga yang kami lakukan dapat bermanfaat demi Indonesia bebas krisis energi, dan juga mengedepankan energi terbarukan.

Mencari lokasi untuk turbin piko

Setelah berbulan-bulan berencana, membuat dan melakukan beberapa test, akhirnya saya dan beberapa teman mencari lokasi yang tepat untuk turbin piko pertama kami. Idenya sederhana saja, membuat turbin air skala sangat kecil (<5000 watt) semurah mungkin dan pemanfaatan sebesar mungkin. Di tulisan yang akan datang mudah-mudahan saya dapat menuliskan pengalaman membuat dan melakukan test turbin piko ini.

Susah-susah mudah memang mencari lokasi dengan head (tinggi jatuh air) 15 meter dan debit air 15 liter per detik sesuai desain turbin yang telah kami buat. Di Bandung dan sekitarnya (tempat tinggal kami) akan sangat sulit mencari lokasi yang diinginkan, paling tinggi 5 meter saja sementara debit air di perkotaan unpredictable (tak bisa diprediksi) kadang besar kadang habis sama sekali. Di pedesaan air sangat besar dan head biasanya cukup tinggi sehingga akan sangat feasible (mungkin) jika menggunakan turbin mikro yang sudah diproduksi bebepara manufaktur di Bandung seperti PT. Heksa Prakarsa Teknik, CV. Cihanjuang Inti Teknik dan PT Kramat Raya Sejahtera.

Solusi untuk kami ternyata tidak terlalu sulit, kami tinggal mencari turbin-turbin kincir sederhana yang dibangun di beberapa desa yang memang sudah sangat membutuhkan listrik, baik untuk penerangan maupun untuk usaha kecil. Pilihan kami adalah sebuah desa di daerah Garut Selatan yang tidak terjangkau oleh jaringan transmisi PLN. Di pertengahan September 2008 di saat bulan Ramadhan kami berempat bersama seorang warga desa melakukan survey (peninjauan) ke pelosok hingga kami temukan turbin kincir yang dimaksud.

Terdiri dari 3 buah air terjun berundak-undak dan 3 kincir, dengan kondisi 2 kincir beroperasi dan 1 kincir tidak ada. Menurut informasi yang kami dapatkan dari 2 kincir yang beroperasi 1 kincir menghasilkan ~100w dan yang lainnya bisa menghasilkan ~250w, kedua kincir dimanfaatkan untuk menerangi sekitar 5 rumah masing-masing 50 – 75 watt.

Saat melakukan survey kami hanya membawa kamera digital, alat ukur sederhana (meteran) dan tali sehingga cara pengukuran yang kami lakukan tentu bukan sesuatu yang presisi tapi acceptable (dapat diterima) untuk sebuah kunjungan singkat.

Pengukuran head:

Pengukuran dilakukan dengan membentangkan meteran dari permukaan air terjun yang paling atas hingga permukaan jatuhan air paling bawah sehingga didapatkan panjang sisi miring, untuk sudut kami melakukan foto tegak lurus ke arah perpotongan meteran dan tali yang digantung batu yang selanjutnya diolah dengan menggunakan software drawing.

Dari hasil pengukuran didapat ketinggian kurang lebih 15 meter, pengukuran lebih detail akan kami ketahui ketika membawa turbin piko yang sudah dilengkapi preassure gauge (alat ukur tekanan) ke lokasi.

Pengukuran Debit:

Pengukuran debit dilakukan dengan cara yang sederhana pula yaitu dengan mengukur kecepatan benda di aliran air sepanjang 6 meter, dalam hal ini kami menggunakan bunga liar (terimakasih kepada bunga-bunga yang sudah berkorban). Dari beberapa test kami dapatkan rata-rata 7 detik dibutuhkan bunga liar untuk mencapai 6 meter atau sekitar 0,86 m/dt, penampang selokan memiliki lebar 30 cm dan kedalaman air 6 cm sehingga diperoleh luas penampang air 0,018 m2. Debit kami dapatkan  dengan memformulasikan kecepatan aliran air dikalikan luas penampang selokan

Q = v x a

Q = 0.86m/dt x 0.018m2 = 0,0154m3/dt ~ 15 l/dt

Analisa optimis kami untuk daya yang terbangkitkan:

P = H x Q x g x 50%

= 15m x 15l/dt x 9,8m/dt2 x 0,5

= 1102,5 watt

Dari energi yang terbangkitkan kami berharap dapat menerangi sekitar 20 rumah masing-masing 50 watt.

Akhir kata kami terpuaskan dengan hasil yang kami dapatkan karena secara garis besar sesuai dengan turbin piko yang telah kami buat, sore hari kami pulang dengan perasaan lelah bercampur bahagia karena waktu berbuka puasa akan tiba.

Saya akan terus memberikan kelanjutan dari pengalaman ini setelah kami berhasil memasang turbin.

Terima kasih dan mohon doanya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.